Sistem stratifikasi sosial pada zaman Belanda,pada zaman Jepang, zaman Industri modern,dan Pengaruh Stratifikasi Sosial

C. Sistem stratifikasi sosial pada zaman Belanda
Secara garis besar digambarkan seperti bagan berikut ini :
Gambar :


1 Golongan Eropa
2. Golongan Timur Asing
3. Golongan Bumi Putera



D. Sistem stratifikasi sosial pada zaman Jepang
Secara garis besar digambarkan seperti bagan berikut ini :


1 Golongan Jepang
2. Golongan Bumi Putera
3. Golongan Cina & Eropa



E. Sistem stratifikasi sosial pada zaman Industri modern
Secara garis besar digambarkan seperti bagan berikut ini :
1. Kel. Profesional
2. Kel. Profesional awal dan semi profesional
3. Buruh rendahan

Stratifikasi masyarakat pertanian di pulau Jawa
1.     1.  cikal bakal
2.      2.  kuli kenceng
3.      3. kuli kendo
4.      4. buruh tani
Masyarkat pertanian pada umumnya masih menghargai peran pembuka tanah (cikal bakal), yaitu orang yang pertama kaliu membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal dan lahan pertanian. Cikal bakal dan keturunannya merupakan golongan elite di desanya. Biasanya mereka menjadi sesepuh atau golongan yang dituakan. Golongan kedua sesudah cikal bakal diduduki oleh pemilik tanah atau orang kaya, tetapi bukan keturunan cikal bakal. Mereka dapat memilki banyak tanah dan kayak arena keuletan dan kemampuan lainnya. Kelompok kedua ini disebut dengan kuli kenceng. Golongan ketiga adalah petani yang hanya memiliki tanah sedikit dan hanya cukup untuk dikonsumsi sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan lainnya ia harus bekerja di sector lain, seperti berdagang kecil-kecilan. Kelompok ini disebut dengan kuli kendo. Sedangkan golongan sector keempat adalah orang yang tidak memiliki tanah, namun bekerja di sector pertanian. Kelompok ini sering disebut buruh tani.

Kelompok cikal bakal merupakan kelompok masyarakat yang jumlah anggotanya sangat sedikit. Sedangkan kelompok buruh tanui merupakan kelompok terbesar dalam startifikasi masyarakat pertanian di Jawa.

Pelapisan sosial masyarakat pertanian di luar Jawa, seperti di pedalam Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, dan Papua juga memiliki criteria berbeda dengan petani di Pulau Jawa. Hal inui disebabkan oleh kondisi lahan pertanian di luar Jawa yang masih luas. Akibatnya, maslah pemilikan tanah pun tidak terlalu dominant. Penentuan criteria status seseorang yang dihargai sangat tergantung padsa kemampuan orang dalam mengelola lahan pertaniannya, seperti jenis tanaman yang memilki nilai ekonomi yang tinggi, cara atau teknik penanaman, serta sarana transportasi hasil pertanian.

Kondisi masyarakat pertanian di luar Jawa sangat beragam, sehingga untuk menentukan sistem stratifikasi sosial masyarakatnya sangatlah beragam pula,. Namun, secara umum orang yang memiliki tanah yang luas dengan pengelolaan pertanian yang maju serta lapisan paling tinggi. Kemudian diikuti kelompok masyarakat lain, seperti petani dan buruh.

6.Pengaruh Stratifikasi Sosial

Selain menimbulkan tumbuhnya pelapisan dalam masyarakat, juga munculnya kelas-kelas sosial atau golongan sosial yang telah kita pelajari pada Modul terdahulu.

Adanya pelapisan sosial dapat pula mengakibatkan atau mempengaruhi tindakan-tindakan warga masyarakat dalam interaksi sosialnya. Pola tindakan individu-individu masyarakat sebagai konsekwensi dari adanya perbedaan status dan peran sosial akan muncul dengan sendirinya.

Pelapisan masyarakat mempengaruhi munculnya life chesser & life stile tertentu dalam masyarakat, yaitu kemudahan hidup dan gaya hidup tersendiri. Misalnya, orang kaya (lapisan atas) akan mendapatkan kemudahankemudahan dalam hidupnya, jika dibandingkan orang miskin (lapisan bawah); dan orang kaya akan punya gaya hidup tertentu yang berbeda dengan orang miskin.
Pelapisan masyarakat mempengaruhi munculnya perbedaan gaya hidup meliputi :
1.      1. Hobi dan kegemaran
2.      2. Rumah dan perabot
3.      3. Makanan
4.      4.Gaya bahasa dan bicara
5.      5. Kedudukan,jabatan,kekuasan
6.      6.Pakaian

DiDiketik oleh : Lis fatmawati

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar